Putrawayka.com – 06 Juli 2026 | MEXICO CITY – Di tengah riuh rendah drama dan intrik sepak bola dunia, nama Jude Bellingham bersinar terang. Gelandang muda sensasional ini menjadi pahlawan bagi Inggris dalam kemenangan epik 3-2 atas Meksiko di Estadio Azteca, yang sekaligus memastikan langkah The Three Lions ke perempat final Piala Dunia. Sebuah pertandingan yang akan dikenang sebagai salah satu momen terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris, menyamai euforia kemenangan di tahun 1966.
Pertandingan yang digelar di stadion legendaris Azteca ini tidak hanya menyajikan adu taktik, tetapi juga drama yang menguras emosi. Sejak awal, atmosfer stadion yang dipenuhi lebih dari 80.000 penonton sudah terasa membara. Meksiko, yang memiliki rekor kandang impresif di Piala Dunia, harus mengakui keunggulan Inggris berkat penampilan gemilang Jude Bellingham. Pemain berusia 19 tahun itu mencetak dua gol dalam rentang waktu hanya 98 detik di babak pertama, membuat publik tuan rumah terdiam.
Gol pertama Bellingham tercipta melalui sundulan di menit ke-36, memanfaatkan umpan matang. Belum sempat Meksiko bangkit, dua menit berselang, tepatnya di menit ke-38, Bellingham kembali mencatatkan namanya di papan skor. Kali ini, assist datang dari kapten tim, Harry Kane, yang memperkokoh keunggulan Inggris menjadi 2-0.
Baca Juga
Namun, pertandingan belum usai. Meksiko yang didukung penuh suporter tuan rumah, berhasil memperkecil ketertinggalan melalui gol Julián Quiñones di menit ke-42. Momentum sempat berbalik ketika Inggris harus bermain dengan sepuluh orang setelah Jarell Quansah diganjar kartu merah di menit ke-54 akibat pelanggaran keras.
Di tengah tekanan luar biasa, Inggris justru mendapatkan hadiah penalti setelah terjadi pelanggaran terhadap Harry Kane di kotak terlarang. Kane dengan tenang berhasil mengeksekusi tendangan penalti tersebut, mencetak gol keenamnya di turnamen ini dan gol ke-14 sepanjang kariernya di Piala Dunia, menyamai rekor Gerd Müller. Gol ini sempat membawa Inggris unggul 3-1.
Meksiko tidak menyerah begitu saja. Mereka terus menekan pertahanan Inggris yang bermain dengan sepuluh orang. Raúl Jiménez berhasil mempersempit jarak skor menjadi 3-2 melalui tendangan penalti di menit-menit akhir pertandingan. Hingga peluit panjang dibunyikan, Inggris berhasil menahan gelombang serangan Meksiko berkat pertahanan kokoh yang digalang kiper Jordan Pickford dan para pemain bertahan lainnya.
Kemenangan ini bukan hanya sekadar lolos ke babak selanjutnya, tetapi juga memiliki makna historis. Pertandingan ini mengingatkan kembali pada memori pahit Inggris di Azteca pada perempat final Piala Dunia 1986, ketika Diego Maradona mencetak dua gol ikonik, termasuk gol ‘Tangan Tuhan’. Kali ini, sejarah berpihak pada Inggris, dan Jude Bellingham menjadi tokoh sentral dalam pembalikan narasi tersebut.
Pelatih Inggris, Thomas Tuchel, memuji penampilan luar biasa anak asuhnya. “Ini adalah pertandingan yang gila. Kami harus berjuang keras dan menemukan cara untuk menang,” ujar Kane kepada BBC Sport. Ia juga menyoroti peran krusial Bellingham. “Dia sangat serbaguna dan luar biasa. Dia membawa energi yang luar biasa bagi tim.”
Kemenangan dramatis ini membawa Inggris melaju untuk menghadapi Norwegia di perempat final. Dengan performa yang terus menanjak, terutama berkat kontribusi magis dari Jude Bellingham, Inggris semakin memupuk harapan untuk mengakhiri puasa gelar mayor mereka yang telah berlangsung selama 60 tahun.




